Apariminta Jagat Pramudita
Pada Charity Legion 2019 ini, saya memberikan sedikit rezeki
sembako kepada seorang perempuan bernama Fitria Nur Lathifa. Beliau berusia 16
tahun yang juga seorang siswi di sebuah SMK di Kabupaten Bandung Barat. Fitria
sekarang duduk di kelas 2 SMK jurusan Administrasi Perkantoran. Beliau tinggal
di Kampung Babakan, Kelurahan Cigugur Girang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten
Bandung Barat. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya ingin memberi
sembako kepada beliau. Alasannya yaitu, beliau saat ini bekerja juga sebagai
asisten rumah tangga di perumahan yang sekarang saya tinggali 3 tahun
belakangan. Beliau bekerja sebagai asisten rumah tangga dikarenakan
menggantikan pekerjaan yang dilakukan oleh sang ibu, dikarenakan ibunda Fitria
sedang sakit. Maka dari itu Fitria bertekad untuk menggantikan sang ibu sejak
bulan ke 4 pandemi melanda Indonesia. Fitria memiliki 8 saudara kandung, dan kebanyakan
saudaranya masih berusia 4-13 tahun. Maka dari itu ia harus membiayai kebutuhan
keluarganya agar bisa bertahan hidup ditengah pandemi ini. Ayah Fitria bekerja
menjadi pesuruh dan tukang kebun disekitar lingkungan perumahan saya. Fitria
sendiri bekerja tidak hanya di satu rumah, namun beliau juga bekerja di
beberapa rumah termasuk rumah saya sendiri, pekerjaannya yaitu membersihkan
rumah dengan menyapu, mengepel, menyuci baju. Fitria juga bekerja di kantin
kecil milik tetangga saya yang berada didekat rumah saya. Ia membantu memasak,
menghitung keuangan juga. Dan akhir-akhir ini ia juga membantu tetangga saya
membuat dimsum. Fitria bekerja dari hari senin sampai sabtu, pada hari senin
sampai rabu ia bekerja dari pukul 07.00-12.00 di rumah tetangga saya yang
berjualan dimsum. Dan bekerja pada hari kamis sampai sabtu dari pukul
07.00-14.00 dirumah tetangga saya yang memiliki kantin. Di rumah tetangga saya
yang pemilik kantin, selain memasak dan menghitung keuangan kantin, ia juga
sering mengajarkan sedikit materi pembelajaran sekolah kepada anak anak
tetangga saya yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Di sekolah Fitria tergolong
cukup pintar di kelasnya. Pada bulan ke 4 setelah pandemi Covid-19 melanda
Indonesia, Ibu Fitria sakit, sehingga mulai saat itu Fitria mulai bekerja
sekaligus menjalankan perannya sebagai siswi SMK. Saat bekerja, Fitria selalu
menyempatkan diri untuk mengikuti kelas online. Pada umumnya anak seusia Fitria
harusnya menikmati masa-masa sekolah dengan baik dan tidak memiliki beban
finansial. Namun Fitria sendiri tidak mengeluh akan kondisinya saat ini, ia
memiliki hobi menjaga lingkungannya tetap bersih dan rapih sehingga saat
bekerja ia pun melakukannya dengan sukarela dan bersih. Berdasarkan pendapatan,
Fitria tidak merasakan kekurangan dan selalu cukup untuk membiayai biaya perbulan
dalam keluarganya. Biasanya uang yang didapatkan Fitria setelah bekerja, ia
pakai untuk kebutuhan sekolahnya dan juga kebutuhan sehari hari keluarganya. Namun
akhir-akhir ini Fitria lebih dominan memakai uang tersebut untuk kebutuhan
sekolahnya dikarenakan sekolah Fitria mengadakan pembelajaran secara daring. Maka
dari itu Fitria selalu mengambil kerja tambahan di rumah tetangga saya yang
lain, terkadang juga disaat pekerjaan rumah saya menumpuk, saya dan ibu selalu
memanggil Fitria ke rumah untuk membantu kami. Dari Latar belakang kehidupan sehari-hari Fitria itulah, saya langsung berinisiatif untuk memberikan charity berupa sembako kepada Fitria untuk membantu kebutuhan hidup keluarganya.
Pendapat Fitria akan dampak dari pandemi Covid-19 terhadapnya
yaitu kebutuhan finansialnya yang semakin tinggi sehingga harus bekerja lebih
keras dan mengambil pekerjaan lagi di beberapa rumah di perumahan saya. Beliau
mengatakan bahwa kebutuhan sekolahnya semakin bertambah dikarenakan harus
menyediakan perangkat elektronik seperti laptop dan smarphone sebagai media
pembelajaran, dan juga di rumah ia tidak memiliki wifi sehingga harus
menyediakan kuota dalam jumlah banyak, walaupun Fitria juga mendapatkan jatah
kuota dari pemerintah negara, namun hal itu tidak menjamin bahwa kuota tersebut
akan diberi terus menerus setiap bulannya. Sudah beberapa kali Fitria tidak
mendapat jatah kuota, seperti contoh di bulan Agustus Fitria mendapatkan kuota
namun di bulan berikutnya ia tidak mendapatkan kuota pemerintah tersebut. Hal ini
menyebabkan ia harus membutuhkan biaya tambahan untuk membeli kuota cadangan
ketika tidak dapat jatah kuota dari pemerintah. Selain kuota, hp juga sangat berpengaruh
dalam berlangsungnya pembelajaran daring, karena bisa menjadi media komunikasi
Fitria dengan teman-temannya dan juga gurunya. Maka Fitria harus menjaga hpnya
agar selalu dalam keadaan baik, tidak mudah error, dan mencegahnya dari terkena
air dan jatuh dari ketinggian. Karena biaya perbaikan hp tidaklah murah
sedangkan ia bekerja menggantikan sang ibu dan juga membiayai kehidupan
adik-adiknya. Dampak pada pekerjaannya yaitu ia harus sering menjaga jarak
dengan konsumen kantin dan juga selalu dalam keadaan bersih sebelum bekerja
sebagai asisten rumah tangga. Menjaga jarak pula dengan anak anak saat
mengajar, dan juga pesanan kantin lebih banyak diantar ke rumah-rumah karena
tidak banyak orang yang datang ke kantin selama pandemi berlangsung. Ia juga
membutuhkan biaya lebih untuk membeli alat kesehatan sesuai protokol yang
diberikan pemerintah, seperti masker dan hand sanitizer.
Kesan dan pesan saya selama
berlangsungnya Charity Legion 2019 ini, saya sadar tidak semua orang menjalani
kehidupan yang normal dan masih bergantung kepada orangtua. Kebutuhan hidup
seseorang juga berbeda, ada yang harus menafkahi anggota keluarganya yang
banyak, dan belum terhitung membayar kebutuhan pokok seperti listrik, air dan
lain-lain. Dari kisah Fitria sendiri saya juga kagum karena kegigihan dia dalam
melaksanakan perannya menjadi siswi SMK dan sekaligus menjadi ART di beberapa
rumah. Tidak semua orang bisa melaksanakan dua pekerjaan sekaligus apalagi usia
Fitria yang terbilang masih muda untuk bekerja. Dan juga kondisi dunia yang
saat ini dilanda pandemic Covid-19 membuat kehidupan semua orang menjadi
berubah total. Ada yang terkena PHK setelah terjadinya pandemi, ada yang
dagangannya kurang laku karena jarang ada pembeli, dan juga semakin sulit
mencari nafkah selama pandemi dikarenakan kebanyakan orang sudah beralih pada
pembelian barang via online. Maka dari itu banyak orang yang terdorong untuk
memberikan bantuan kepada yang membutuhkan apalagi saat ini semua sekolah
mengadakan segala pembelajaran dengan daring. Tidak semua orang memiliki telpon
seluler, kuota maupun sinyal yang baik. Saya sendiri merasa bersyukur segala
kebutuhan saya masih terpenuhi oleh kedua orang tua. Dari kegiatan Charity ini
banyak sekali hikmah yang di ambil, dan semakin peduli terhadap lingkungan di
sekitar saya yang ternyata masih banyak yang kekurangan. Dan juga selalu
mensyukuri apa yang telah Tuhan yang Maha Esa berikan kepada kita setiap
harinya, kehidupan dimasa mendatang nanti kita tidak tahu seperti apa nasib
yang akan menghampiri kita. Maka dari itu selagi ada rezeki, jangan ragu untuk
memberikan rezeki tersebut untuk saudara-saudara kita yang masih membutuhkan
bantuan. Termasuk saudari Fitria sendiri, dari dia saya bisa belajar bagaimana
harus bertahan hidup dikala pandemi ini dengan bekerja setiap hari dan
membiayai seluruh kebutuhan hidup keluarganya seorang diri. Dan juga menjadi
pribadi yang mandiri dan teratur agar tidak merepotkan kedua orang tua.

Komentar
Posting Komentar